Selasa, 10 Mei 2011

sejarah lahirnya psikolinguistik

PSIKOLINGUISTIK

A.Sejarah Lahirnya Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah ilmu hibrida yakni ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu: psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar-dasar prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”.
Sementara itu, di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Kess, 1992): (1) tahap formatif, (2) tahap linguistik, (3) tahap kognitif, dan (4) tahap teori psikolinguistik, realita psikologis, dan ilmu kognitif.
1. Tahap Formatif
Pada pertengahan abad ke 20 John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridasi (penggabungan)nkedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedus disiplin ilmu ini. Pertemuan itu di lanjutkan pada tahun 1953 di Uniiversitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupunahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini (Osgood dan Sebeok, 1954). Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini kemudian mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.


2. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku chomsky, sytactic structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B>F Skinner (Chmsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini makin berkembang karena pandangan Chimsky tentang universal bahasa makin mengarah pada pemerolehan bahasa.
Kesamaan dalam strategi ini didukung pula oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik (Caplan 1987) dan biolinguistik (Lenneberg, 1967; Jenkins 2000). Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang brbeda dengan primat lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Dari segi biologi, manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.
Bilinguistik, yang merupakan ilmu hibrida antara biologi dan linguistik, bergerak lebih luas karena ilmu ini merujuk pada pengetahuan kebahasaan manusia yakni pengetahuan seperti apa yang dimiliki manusia sehingga dia dapat berbahasa, dari mana datangnya pengetahuan itu sudah ada sejak manusia dilahirkan atau diperoleh dari lingkungan setelah manusia dilahirkan, pengetahuan yang kita miliki parameter apa yang kita pakai untuk mengolah dan mencerna input yang masuk pada kita, peran otak manusia yang membedakannya dengan otak binatang, dan dan pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia (species specific) hanya manusialah yang dapat berbahasa.
3. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif.
Pada tahap ini orang juga mulai berbicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lenneberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetic dengan pertumbuhan biologinya.
4. Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini, psikologi tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikologi tidak lagi terdiri dari psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi dan genetika.
Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahillah manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan diantara para fikosof – apa pengetahuan itu dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.
Dengan kata lain, psikolinguistik kini telah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu yang lain.

B. Definisi Psikolinguistik
Orang memberikan definisi yang berbeda-beda pada psikolinguistik meskipun pada esensinya sama. Aitcison (1998: 1) mendefinisikannya sebagai suatu “studi tentang bahasa dan minda”. Harley (2001: 1) menyebutnya sebagai suatu “studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa”. Sementara itu, Clark dan Clark (1977: 4) menyatakan bahwa psikologi bahasa berkaitan dengan tiga hal utama: komprehensi, produksi, dan pemerolehan bahasa. Dari definisi definisi ini dapatlah disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam rangka bahasa.
Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat topik utama: (a) komprehensi, yakni proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, (b) produksi, yakni proses-proses mental pada diri kita yang yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan, (c) landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, dan (d) pemerolehan bahasa, yakni bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.

C.Kodrat Bahasa
Meskipun di satu pihak ada beberapa persamaan, di pihak lain ada ciri-ciri khusus yang membedakan bahasa manusia dengan bahasa binatang.
Pertama, bahasa manusia (mulai sekarang: bahasa) memiliki ketergantungan struktur (strycture-dependence). Suatu rentetan kata dalam kalimat tidak membentuk rentetan yang acak tetapi satu bergantung pada yang lain. Urutan kata memang tampak linier tetapi satu kata dengan satu kata yang lain membentuk suatu struktur yang hierarkhis.
Kedua, bahasa dan pemakai bahasa itu kreatif. Dari segi pemakai bahasa, dia kreatif karena dia memiliki kemampuan untuk memahami dan mengujarkan ujaran baru mana pun. Ujaran yang kita dengar kapan pun juga tidak pernah ada yang sama dengan ujaran yang kita dengar sebelumnya, meskipun topiknya sama. Namun demikian, kita dapat memahaminya. Begitu pula dalam belajar: kita tidak pernah mengeluarkan ujaran yang persis sama, kalau pun kita berbicara tentang hal yang sama. Sifat kreatif ini hanya ada pada manusia.
Ketiga, bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan situasi atau peristiwa yang sudah lampau atau yang belum terjadi dan bahkan untuk sesuatu yang dibayang-bayangkan.
Keempat, bahasa memiliki struktur ganda yang dinamakan struktur bathin (deep structure) dan struktur lahir (surfsce structure). Dalam banyak hal kedua struktur ini memang menyatu sehingga tidak tampak adanya perbedaan.
Kelima, bahasa itu diperoleh secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain.
Keenam, hubungan antara kata dengan benda, perbuatan, atau keadaan yang dirujuknya itu arbitrer (arbitrary).
Ketujuh, bahasa memiliki pola dualitas, artinya bunyi-bunyi itu sendiri sebenarnya tidak mempunyai makna dan baru bermakna setelah bunyi-bunyi itu kita gabungkan.
Kedelapan, bahasa itu memiliki semantisitas, artinya bahwa begitu sebuah nama diberikan maka nama itu akan selalu merujuk pada konsep benda itu, meskipun benda itu sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk nama itu.

D. Definisi Bahasa
Dari gambaran ciri-ciri di atas, bahasa bisa didefinisikan dari pelbagai sudut pandang. Namun bahasa yang banyak dipakai orang adalah: bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.
Sistem bahasa adalah sistem yang terdiri dari simbol-simbol dan memiliki elemen-elemen beserta hubungan satu sama lainnya yang akhirnya membentuk suatu konstituen yang sifatnya hierarkhis.

E. Komponen Bahasa
Pada aliran linguistik mana pun bahasa selalu dikatakan memiliki tiga komponen: sintatik, fonologi, dan semantik.
Komponen sintaksis, menangani ihwal yang berkaitan dengan kata, frasa, dan kalimat.
Komponen fonologi, menangani ihwal yang berkaitan dengan bunyi dan bersifat interpretif. Bunyi merupakan simbol lisan yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan apapun yang ingin disampaikan.
Komponen semantik, membahas ijwal makna. Dalam komponen ini kata tidak hanya diberi makna seperti yang terdapat pada kebanyakan kamus, tetapi juga diberi rincian makna yang disebut fitur semantik.

F. Waktu Pemerolehan Bahasa Dimulai
Berbahasa mencakup komprehensi maupun produksi maka sebenarnya anak sudah mulai berbahasa sebelum dia dilahirkan. Melalui saluran intrauterine anak telah terekspos pada bahasa manusia waktu dia masih janin (Kent dan Miolo 1996: 304). Kata-kata dari ibunya tiap hari dia dengar dan secara biologis kata-kata itu “masuk” ke janin. Kata-kaya ibunya ini rupanya “tertanam” pada janin anak.
G. Perkembangan Bahasa
1. Aspek Neurologi
Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki sekarang ini, mustahillah manusia dapat berbahasa.
a. Evolusi Otak Manusia
Manusia tumbuh secara gradual dari suatu bentuk ke bentuk lain selama berjuta-juta tahun. Salah satu pertumbuhan yang telah diselidiki oleh para ahli Palaeneurologi menunjukkan bahwa evolusi otak dari primat Austrolopithecus sampai dengan manusia pada masa kini telah berlangsung sekitar 3 juta tahun. Hal ini tampak paling tidak pada ukuran otak yang membesar dari 400 miligram menjadi 1400 miligram pada kurun waktu 3-4 juta tahun yang lalu. Perkembangan otak ini dapat dibagi menjadi empat tahap . Tahap pertama adalah tahap perkembangan. Tahap kedua adalah adanya perubahan reorganisasi pada otak. Tahap ketiga adalah munculnya sistem fiber yang berbeda-beda pada daerah-daerah tertentu melalui corpus callosum. Tahap terakhir adalah munculnya dua hemisfir yang asimitris.

b. Otak Manusia VS Otak Binatang
Di samping bentuk tubuh dan ciri-ciri fisikal yang lainnya,yang membedakan manusia dari binatang adalah terutama otaknya.Di bandingkan dengan binatang lain seperti monyet dan anjing, volume otak manusia memang lebih besar.Akan tetapi yang memisahkan manusia dari kelompok binatang, khususnya dalam hal penggunaan bahasa, bukanlah ukuran dan bobot otaknya.Manusia berbeda dari binatang karena struktur dan organisasi otaknya berbeda sehingga fungsi dan penggunaannya berbeda pula dalam hal bahasa
1. Otak Manusia
Dari segi ukurannya berat otak manusia adalah 1 sampai 1,5 kilogram dengan rata-rata 1330 gram. Untuk ukuran orang barat, ini adalah 2% dari berat badannya;untuk manusia Indonesia bahkan mungkin kurang dari itu.Akan tetapi ukuran sekecil ini menyedot 15%dari seluruh peredaran darah dari jantung dan memerlukan 20% dari sumber daya metabolic manusia.Dengan demikian dari data di atas bahwa otak memerlukan perhatian khusus dari badan kita.
Seluruh system saraf kita terdiri dari dua bagian utama: tulang punggung yang terdiri dari sederetan tulang punggung yang bersambung-sambungan dan otakitu sendiri terdiri dari dua bagian : batang otak , korteks selebral. tulang punggung dan korteks selebral ini merupakan system saraf sentral untuk manusia.segala apa yang dilakukan manusia baik beryupa kegiatan fisik maupun mental itu dikendalikan oleh system syaraf ini.
Batang otak terdiri dari bagian-bagian yang dinamakan Medulla , Pons , Otak tengah , dan Cerebellum.Bagian-bagian ini terutama berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh , termasuk pernapasan , detak jantung , gerakan , reflex , pencernaan dan pemunculan emosi. Korteks selebral menangani fungsi-fungsi intelektual dan bahasa.
Korteks selebral manusia terdiri dari dua bagian;hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Kedua hemisfer ini dihubungkan oleh sekitar 200 juta fiberyang dinamakan korpus kalosum.
Hemisfer kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada di sebelah kanan . sebaliknya, hemisfer kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. jadi kedua hemisfer ini saling silang, yang kiri mengontrol yang kanan dan yang kanan mewngontrol yang yang kiri.Corpus kalosum bertugas nmengintegrasi dan mengkoordinir apa yang dilakukan oleh kedua hemisfer tersebut.
Mata dan telinga diatur agak berbeda. Pada tiap mata dan telinga terdapat sambungan syaraf ke hemisfer kirimaupun kanan, meskipun jumlahnya berbeda . jadi dari mata kiri misalnya ada “sambungan kabel” kedua hemisfer tersebut;hanya saja hemisfer kanan lebih banyak dari pada yang ke hemisfger kiri, hal itubjuga terjadi pada mata yang sebelah kanan. Karena system “pengkabelan”yang seperti in , maka kalau salah satu mata kita terganggu atau bahkan buta, kita masih bias melihat objek secara utuh, begitu juga pada pendengaran.
Wujud fisik dari hemisfer kiri dan hemisfer kanan hamper merupakan pantulan cermin tetapi ada sedikit perbedaan , misalnya pada hemisfer kiri ada daerah yakni daerah Wernicke, yang lebih luas dari bagian yang sama di hemisfer kanan . Karena dalam kaitannya dengan bahasa yang paling banyak berperan adalah hemisfer kiri.

2. Otak Binatang
Evolusi otak pada manusia dan pada makhluk lain berbeda. Pada makhluk seperti ikan , tikus , dan burung misalnya korteks selebral boleh dikatakan tidak tampak padahal korteks inilah yang sangat berkembang pada manusia. Pada makhlulm lain seperti simpanse dan juda gorilla juga tidak terdapat daerah-daerrah yang dipakai untuk memproses bahasa.

c. Kaitan Otak dengan Bahasa
Dari struktur serta organisasi otak manusia bahwa otak memegang peranan penting dalam bahasa.
Apabila input yang masuk dalam keadaan lisan, maka bunyi itu di tanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks primer pendengaran.disini input tadi diolah secara rinci sekali,setelah diterima, dicerna dan diolah maka bunyi bahasa tadi dikirim kedaerah Wernicke untuk diinterpresentasikan.Didaerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi kata .frasa, klausa dan akhir kalimat. Setelah diberi makna dan dipahami isinya, maka bada jalur kemungkinan , bila masukan tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu untuk di tanggapi , maka masukan tadi cukup disimpan saja dalam memori.bila masukan tadi perlu ditanggapi secara verbal, maka interpresensi ini dikirim ke daerah Broca melalui Fasikulus Arkuat.Bila input yang masuk bukan dalam bentuk lisan , tetapi dalam bentuk tulisan, maka jalur pemrosesannya agak berbeda. Masukan tidak ditanggapi oleh korteks primer pendengaran tetapi oleh korteks visual di lobe osipital.



d. Peran Hemisfer Kiri dan Kanan
Hemisfer merupakan hemisfer yang bertanggung jawab tentang ihwal kebahasaan. Dari hasil operasi yang dinamakan hemispherectomy, perasi dimana satu hemisfer diambil dalam rangka mencegah epilepsi , terbukti juga bahwa bila hemisfer kiri yang di ambil maka kemampuan berbahasa orang itu menurun dengan drastis, sebalikny bila yang di ambil adalah hemisfer kanan maka orang tersebut masih dapat berbicara meskipun tidak sempurna.
Disamping itu, ada hal-hal yang berkaitan dengan bahasa yang ternyata ditangani oleh hemisfer kanan.Dari orang-orang yang hemisfer kananya terganggu didapati bahwa kemampuam mereka dalam mengurutkan suatu peristiwa sebuah cerita atau narasi menjadi kacau.juga mendapatkan kesukaran dalam menarik inferensi,tidak dapat mendeteksi kalimat ambigu juga kesukaran dalam memahami metafora maupun sarkasme.

2. Aspek Biologi
Di samping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi yang lain. Hal ini terutama tampak pada proses pemerolehan bahasa.Di mana pun juga di dunia ini, anak memperoleh bahasa dengan melalui proses yang sama. Antara umur 6 sampai 8 minggu, anak mulai mendekut (cooing), yakni, mereka mengeluarkan bunyi-bunyi yang menyerupai bunyi vokal dan konsonan. Bunyi-bunyi ini belum dapat diidentifikasi sebagai bunyi apa, tapi sudah merupakan bunyi. Pada sekitar 6 bulan mulailah anak dengan celoteh (babbling), yakni, mengeluarkan bunyi yang berupa suku kata. Pada umur sekitar 1 tahun, anak mulai mengeluarkan bunyi yang dapat diidentifikasi sebagai kata. Untuk bahasa yang kebanyakan monomorfemik (bersuku kata satu) maka suku itu, atau sebagian dari suku, mulai di ujarkan. Untuk bahasa yang kebanyakan polimorfemik, maka suku akhirlah yang diucapkan. Itu balum tentu lengkap. Untuk kata ikan, misalnya, anak akan mengatakan /tan/ (lihat Djardjowidjojo 2000). Kemudian anak akan mulai berujar dengan ujaran satu kata (one word utterance), lalu menjelang umur 2 tahun mulailah dengan ujaran dua kata (two word utterance). Akhirnya, sekitar umur 4-5 tahun anak akan telah dapat berkomunikasi dengan lancar.
Patokan minggu, bulan, dan tahun haruslah dianggap relatif karena faktor biologi pada manusia itu tidak semuanya sama. Yang penting dari patokan itu adalah bahwa urutan pemerolehan pada anak itu sama: dari dekutan, ke celotehan, ke ujaran satu kata, dan kemudian ke ujaran dua kata, dan seterusnya. Begitu juga dalam hal komprehensi dan produksi. Anak dimanapun dan dalam bahasa apapun menguasai komprehensi lebih dulu daripada produksi.
Manusia dapat menguasai bahasa secara natif hanya kalau prosesnya dilakukan antara umur tertentu, yakni, antara umur 2 sampai sekitar 12 tahun. Di atas umur 12 orang tidak akan dapat menguasai aksen bahasa tersebut dengan sempurna.
Dengan fakta-fakta seperti dipaparkan di atas maka pandangan masa kini mengenai bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologis, khususnya fenomena biologi perkembangan. Arah dan jadwal munculnya suatu elemen dalam bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau memperlambat munculnya suatu elemen bahasa.
Faktor lingkungan memang penting, tetapi faktor itu hanya memicu apa yang sudah ada pada biologi manusia. Echa, subjek penelitian Djardjowidjojo (2000), beberapa kali dipancing untuk mengeluarkan bunyi /j/ dan /r/ dalam bahasa Indonesia, tetapi tetap saja tidak dapat mengeluarkan kedua bunyi itu sampai keadaan biologisnya memungkinkannya.




KAJIAN MANDIRI
MEMORI, PIKIRAN, DAN BAHASA
Memori merupakan bagian integral dari eksistensi manusia. Komunikasi dengan sesama manusia akan terhenti karena tanggapan terhadap ujian intelektor ditentukan pula oleh kemampuan memori kita untuk menerima dan menyimpan input itu untuk jangka waktu yang pendek dan secara sementara. Kita juga tidak akan bisa melanjutkan ujaran kita tanpa kita dapat mengingat apa yang baru saja kita ucapkan.
1. Sekilas Tentang Kajian Memori
Sampai dengan akhir abad ke 19, studi tentang memori kebanyakan dilakukan oleh para ahli filsafat. Akan tetapi, pada abad ke 20 secara gradual fokus penelitian beralih ke studi yang sifatnya eksperimental yang mula-mula dilakukan oleh para psikolog tetapi kemudian juga oleh para biolog.Sejak Socrates pertama-tama menyatakan bahwa manusia memiliki bekal kodrati waktu lahir.
Menjelang pertengahan abad ke 19 keberhasilan ilmu eksperimental di bidang fisika dan kimia mulai menarik perhatian mereka yang berkecimpung dalam bidang perilaku (behavior) dan minda. Eksplorasi filosofis secara perlahan telah digantikan dengan studi empirikal oleh kelompok yang kemudian dikenal dengan nama psikolog eksperimental yang dipelopori oleh ahli psikologi Jerman Herman Ebbinghaus (1850- 1909). Dialah yang pertama-tama berhasilk membawa studi tentang memori ke laboratorium (Ssquire dan Kandel 1993: 3-4) untuk dipelajari secara objektif dan kuantitatif. Dari penelitiannya muncul adanya dua macam memori: memori yang hidup singkat dan memori yang hidup lama. Dia dapati pula bahwa pengulangan membuat memori lebih panjang.
Psikolog Amerika William James tahun 1980-an kemudian mengembangkannya lebih lanjut dengan lebih menajamkan perbedaan antara memori jangka pendek (disingkat: memori pendek, short-term memory) dengan memori jangka panjang (memori panjang, long-term memory).
Pada abad ke 20 psikolog Rusia Ivan Pavlov mengajukan teorinya yang kemudian dikenal sebagai classical conditioning sementara Edward thorndike dari Amerika mengajukan operant, atau experimental, conditioning yang kemudian lebih dikenal sebagai trial-and-eror learning.
2. Dimana Memori Disimpan?
Mengenai daerah mana memori disimpan, para ahli masih berbeda pendapat. Orang ang banyak disebut sebagai pelopor mengenai tempat memori di otak adalah Karl Lashley (1980-1958), psikolog di universitas Hardvard. Dari penelitiannya terhadap tikus pada tahun 20-an, dia dapati memori tidak berada pada suatu titik atau daerah tertentu di otak. Banyak bagian dari otak yang terlibat. Donald O. Hebb, universitas McGill, mendapati bahwa bagian-bagian ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda, meskipun semuanya menopang penyimpanan memori secara utuh.
Bahwa memori tidak terletak pada satu tempat di otak juga dikemukakan oleh ahli-ahli lain. Dengan memakai alat PET Tulving dan Lepage (2000) menunjukkan bahwa memori memang tidak berada di suatu tempat khusus di otak. Penemuan baru yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Kapur dkk (1996) dan Cabeza dkk (1997) adalah bahwa penyimpanan memori dan retrival memori tidak berada pada tempat yang sama. Mereka dapati bahwa penyimpanan memori dilakukan oleh hemisfer kiri, khususnya di korteks prafrontal, korteks cingulate anterior, dan girus parahippocampal. Sementara itu, retrival memori dilakukan oleh hemisfer kanan pada tiga daerah yang sama ini. Pola ini kemudian dikenal dengan nama HERA Hesmispheric Encoding/ Retrival Asymmetry.
3. Macam-Macam Memori
Memori tidak hanya satu macam. Penfield dan Roberts (1959: 228-230) menyebutkan adanya memori pengalaman, memori konseptual, dan memori kata. Memori pengalaman adalah memori yang berkaitan dengan ihwal-ijwal di masa lalu. Makin lama suatu pengalaman, makan lama memori itu disimpan dan diingat. Memori konseptual adalah memori yang dipakai untuk membangun suatu konsep berdasarkan fakta-fakta yang masuk. Setelah anak diperkenalkan dengan konsep kupu-kupu, misalnya, dan kemudian melihat gambar-gambar kupu-kupu atau kupu-kupu yang lain, maka si anak akan membangun konsep mengenai binatang ini sehingga akhirnya tersimpanlah konsep kupu-kupu itu di memorinya. Memori kata adalah memori yang mengaitkan konsep dengan wujud bunyi dari konsep tersebut. Seseorang yang lupa nama suatu benda gagal memanfaatkan memori kata.
Sementara itu, ada pula yang membagi memori menjadi memori nondeklaratif dan deklaratif (Squire dan Kandel 1999). Memori nondeklaratif bersifat instingsif berasal dari pengalaman terjadi terwujud dalam bentuk perubahan perilaku, bukan rekoleksi terhadap peristiwa masa lalu. Memori deklaratif adalah memori untuk peristiwa, fakta, kata, muka, musik – segala bentuk pengetahuan yang telah kita peroleh dalam hidup. Bagaimana memori macam ini diperoleh ditentukan oleh berbagai faktor. Pertama, unsur keseringan. Makin sering suatu peristiwa diulang, makin besar kemungkinannya memori untuk peristiwa itu akan tertanam. Kedua, faktor relevansi. Suatu peristiwa yang dari segi pengalam dirasakan relevan akan sangat mengesan dan akan menumbuhkan memori yang cukup lama, bahkan bisa seumur hidup. Ketiga, faktor signifikansi. Suatu hal yang signifikan umumnya akan diingat cukup lama. Keempat, faktor gladi kotor. Gladi kotor ini membuat seorang penyanyi atau penyair ingat isi lagu atau syairnya tetapi juga kata demi katanya. Kelima, faktor keteraturan. Entitas yang ditata secara teratur akan lebih mudah diingat daripada yang diletakkan secara acak. Psikolog seperti William James (1841-1910) membagi memori menjadi dua kelompok besar: memori pendek dan memori panjang. Memori pendek dibagi menjadi dua sub-bagian: memori sejenak (immediate memory) dan memori kerja (working memory).
4. Memori dan Hafalan
Hafalan adalah juga memori tetapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya. Kalau seseorang menceritakan kejadian yang terjadi padanya tadi pagi, kejadian itu akan dapat masuk ke dalam memori kita hanya dari mendengarkan cerita itu. Sebaliknya, hafalan hanya akan dapat menjadi memori dengan suatu usaha atau tindakan yang khusus. Seorang aktor harus mempelajari berulang-ulang (menghafalkan) naskah yang akan diucapkannya. Dia menyimpan hafalan itu dalam memorinya.


5. Pikiran dan Bahasa
Pada masa lalu orang yang banyak memperbincangkan ihwal pikiran dan bahasa adalah para filosof. Namun diantara mereka sendiri, tidak ada kesepakatan. Sebagian berpandangan bahwa orang dapat berpikir tanpa memakai bahasa, sementara sebagian yang lain berpandangan sebaliknya. Filosof seperti Mueller (1887) berpandangan bahwa bahasa dan pikiran tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak mungkin berpikir tanpa bahasa. Sebaliknya, Sir francis galton menyanggah pandangan ini.
Psikolog kemudian melakukan eksperimen untuk mengetahui lebih lanjut masalah ini. Piaget (1924/55), misalnya, meneliti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran. Menurut dia ada dua macam modus pikiran: Pikiran terarah (directed) atau pikiran inteligen (intelligent) dan pikiran tak-terarah atau ikiran autistik (autistic). Menurut dia, Kenyataan bahwa anak brbicara pada orang lain maupun pada dirinya sendiri menimbulkan pertanyaan apakah ada derajat komunikabilitas pada anak. Piaget percaya hal itu ada dan dia menemukan bentuk tengah ini sebagai pikiran egosentris dan bentuk bahasanya sebagai bahasa egosentris. Sosialisasi dengan anak lain menurunkan derajat egosentrisme. Makin besar sosialisasi itu, makin mengecillah ujaran egosentrisnay, dan lama-lama hilang.
Sementara itu, psikolog Rusia Vygotsky (1962) berpandangan bahwa ujaran egosentris tidak hilang tetapi mengalami transformasi genetik dan berubah menjadi apa yang dia namakan inner speech, Hubungan antara inner speech dengan external speech mau-tidak-mau harus memanfaatkan bunyi karena ujaran hanya dapat terwujud dengan bunyi fonetik. Namun, ini tidak berarti bahwa inner speech hanyalah wujud batin dari external speech. Inner speech masih tetap suatu ujaran, yakni, pikiran yang berkaitan dengan kata. Bedanya adalah bahwa pada external speech pikiran itu terwujudkan dalam kata sedangkan pada inner speech kata-kata itu lenyap pada saat pikiran itu terbentuk.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwapada saat anak tumbuh, berpikir yang terujarkan menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir.


REFERENSI:
Dardjowdjojo, Soenjono, Psikolinguistik Pemahaman Bahasa Manusia, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 2003.

2 komentar: